Sambut Hari Raya Nyepi, Umat Hindu di Klaten Gelar Upacara Melasti di Umbul Geneng


(Ilustrasi melasti)

Klaten - Ribuan umat Hindu berkumpul di Umbul Geneng, Desa Ngrundul, Kecamatan Kebonarum untuk mengikuti upacara Melasti, Minggu (28/2/2016). Ritual itu dilaksanakan, sebelum Hari Raya Nyepi tahun Saka 1938 dengan maksud membersihkan diri dan seluruh peralatan sembahyang atau Pratima.

Sebelum menggelar upacara di mata air tersebut, sebanyak 35 jempana, senjata nawasanga dan berbagai persembahan diarak dari Pura Tirta Buana, Desa Pluneng, Kecamatan Kebonarum hingga tempat acara sejauh lebih kurang 2 kilometer.

"Hari ini kita melaksanakan Melasti menjelang pelaksanaan Hari Raya Nyepi tanggal 9 Maret. Sehari sebelumnya akan ada Tawur Agung Kesanga di Prambanan tepatnya pada area Wisnu Mandala, yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo," ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Klaten, IGG Hendrata Wisnu, Minggu (28/2/2016).

Menurutnya, tema hari raya Nyepi tahun ini adalah, "Keberagaman Perekat Persatuan". Dengan mengambil tema tersebut pihaknya berharap agar keberagaman Indonesia dapat bersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Adapun, acara tersebut diikuti oleh  kurang lebih 2000 peserta dipimpin oleh Rsi Bahudanda Sajiwa Dharma Telabah. Pada ritual tersebut juga dilaksanakan pengambilan air suci atau Ngamet Tirta Amerta Sanjiwani. Selain untuk menyucikan peralatan sembahyang, air tersebut juga dipercikan kepada umat yang mengikuti jalannya acara.

Prosesi upacara Melasti dimulai dengan Mendhak Bathara, Mecaru, Labuhan, pengambilan tirta suci dan persembahyangan. Acara kemudian ditutup dengan pemercikankan air suci dan bija (beras) kepada umat sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan.

Adapun pada puncak hari Raya Nyepi, seluruh umat Hindu akan melaksanakan catur brata penyepian. Hal itu dilakukan untuk menyucikan diri.

Dalam sehari semalam, mereka dilarang menyalakan api atau disebut ritual amati geni, amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tak bepergian) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Sumber : jogja.tribunnews.com