Seharusnya Sulinggih Itu "Nyastra"

Sastra dari lontar atau kitab suci menjadi salah satu sumber tattwa pada budaya Bali. Namun kini jarang ditemukan orang yang menekuni sastra atau nyastra. Bahkan, sulinggih yang dianggap sebagai orang suci bagi umat Hindu seperti pedanda, pandita, sri bhagawan, rsi, empu, tidak semua memiliki kemampuan membaca teks lontar atau membuat lontar. Mereka lebih dominan memfokuskan pengabdian pada pelaksanaan ritual akas ngalokapalasraya.

Dari fenomena ini, Prof Dr. Drs. I Made Suweta, M.Si. mengatakan nyastra dalam budaya Bali memang ditujukan pada orang yang menekuni bidang keagamaan. Sebab, orang nyastra memiliki pengetahuan tentang teks yang memuat ritual agama. "Tapi orang yang nyastra tidak selalu pedanda atau sulinggih, meski idealnya mereka (orang suci-red) bisa nyastra seperti Ida Pedanda Made Sidemen," terangnya seperti dilansir koran Bali Post, Minggu Kliwon, 31 Mei 2015.

Realita saat ini menunjukkan masih ada sulinggih namun tidak bisa membaca teks sastra. Hal ini terjadi akibat para sulinggih terlalu fokus pada kegiatan ritual, padahal mereka yang sudah melewati upacara diksa pariksa, diharapkan mampu memberi pencerahan berdasarkan teks lontar atau sastra suci Hindu. "Inilah yang menjadi kekhawatiran bila orang suci yang sudah di-dwijati tidak memiliki dasar tattwa, sebab mereka hanya akan menjadi pendeta muput," ujarnya.

Dalami Sastra

Sangat penting bagi orang suci baik pedanda, pandita, sri bhagawan, rsi dan empu untuk mendalami sastra. Sebab, berbagai bentuk ritual upacara yang selama ini dilakukan tidak semata sebagai tradisi yang dilanjutkan turun temurun, namun juga harus ada penjelasan yang diambil berdasarkan sastra. "Karena itu sangat penting bagi orang suci mampu membaca sastra, bila perlu menganalisis, jadi seorang pendeta idealnya sekaligus seorang yang nyastra," tutur guru besar IHDN ini.

Dia menilai perlu adanya seleksi ketat saat upacara diksa pariksa sebelum mengukuhkan seseorang sulinggih. "Seorang sulinggih saat dikukuhkan memang harus melakukan upacara maguron-guron sekian bulan dari nabe, hingga dari PHDI melakukan tes pada kemampuan berbahasa Sansekerta," tandasnya.