Seminar Nasional dan Angayubagya 58 Tahun PPHDI

Jakarta - Dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939, Panitia Nasional Hari Raya Nyepi 2017 menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Perkuat Soliditas dan Toleransi Terhadap Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Magrwa” di Graha Sabha Pura Aditya Jaya Rawamangun, Kamis, 23 Februari 2017.

Ketua Panitia Penyelengara Seminar Nasional, Made Awanita, S,Ag., M.Pd mengatakan seminar ini merupakan rangkain dari perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada tanggal 28 Maret 2017. Made Awanita juga menyampaikan bahwa dasar dari pelaksanaan seminar yaitu Surat Keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Nomor 1/SK/Parisada Pusat/I/2017 tentang Pembentukan Panitia Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939.

Made Awanita menambahkan, kegiatan seminar nasional ini digandengan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-58 PHDI. “Seminar ini dibarengkan dengan HUT ke-58 PHDI yang diperingati hari ini, Kamis, 23 Februari 2017,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Nasional Hari Raya Nyepi, Irjen Pol. Drs. Ketut Untung Yoga, SH., MH mengapresiasi atas terselenggaranya seminar nasional ini. Ketut Untung juga menyinggung soal masalah besar yang dihadapi Panitia Nasional yaitu pendanaan. “Problem kita dari tahun ke tahun Pan Dana (pendanaan),” ujarnya.

Sekretaris Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Ir. Ketut Parwata dalam sambutannya mewakili Ketua Umum menyampaikan bahwa PHDI dengan usia 58 tahun sudah melakukan banyak hal, namun masih banyak juga masalah keumatan yang belum terselesaikan.

Dengan menyanyikan sepotong lagu, Parwata ingin menggambarkan bagaimana kondisi sebenarnya di internal PHDI. “Jangankan gedung gubukpun aku tak punya”. Bapak dan Ibu sekalian, seperti itu kondisi kita. Jangankan gedung, gubuk saja kita tidak punya. Banyak PHDI di Provinsi berkantor di pura, dan bahkan ada rumah pengurus sendiri yang di jadikan sekretariat PHDI. Makanya kalau Pengurus berganti, alamat sekretariat juga berubah.”

Parwata menambahkan, itulah kenyataan yang dihadapi PHDI sebagai majelis tertinggi umat Hindu. Selama ini operasional PHDI masih didanai oleh pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, dan itupun anggarannya terbatas. Selain itu, operasional PHDI juga didanai dari dana umat Hindu melalui Badan Dharma Dana Nasional (BDDN). Ini tantangan besar bagi pengurus agar mampu menggali dana sehingga PHDI mampu lebih mandiri dan berbuat lebih banyak bagi umat Hindu.

Seminar Nasional diisi oleh dua narasumber. Pemateri pertama, Mayjen TNI (Purn) Putu Sastra Wingarta dari Lemhanas RI dengan materi “Implementasi Empat Konsensus Dasar Dalam Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara (Pendekatan Kewaspadaan Nasional)”. Pemateri kedua, Kolonel Inf. (Purn) I Nengah Dana, S.Ag (Ketua Sabha Walaka) dengan materi “Memantapkan Kerukunan umat Beragama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. Bertindak sebagai moderator seminar KS. Arsana, S.Psi (Pengurus Harian PHDI Pusat). Peserta seminar yang hadir kurang lebih 120 orang dari berbagai unsur, yaitu pemerintah, organisasi Hindu, mahasiwa/i, dan umat Hindu Jabodetabek.

Perayaan dan doa Angayubagya 58 PHDI dipimpin langsung oleh Dharma Adhyaksa PHDI Pusat Ida Pedanda Nabe Gede Bang Buruan Manuaba. Perayaan ini juga diikuti sesepuh PHDI dan tokoh umat Hindu. Sementara, pada hari yang sama Ketua Umum PHDI Pusat Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya menghadiri syukuran Angayubagya 58 PHDI yang diselenggarakan PHDI Provinsi Bali yang dipusatkan di Bangli dengan berbagai rangkaian kegiatan.

Berikut foto-foto kegiatan Seminar Nasional dan Angayubagya 58 Tahun PHDI:


Source: admin