
(Foto: viva.co.id, Situs Purbakala Lingga Yoni Tasikmalaya)
Tasikmalaya - Bagi sebagian kalangan, Situs Purbakala Lingga Yoni Tasikmalaya mungkin kurang dikenal keberadaannya. Koordinat Situs Purbakala Lingga Yoni tepatnya berada pada posisi S7.29460 E108.18801, Kelurahan Sukamaju Kidul, Kecamatan Indihiang Kota Tasikmalaya. Seandainya tidak memiliki gps untuk mencari koordinat di atas, kalo mau berkunjung ke lokasi apabila bertanya bilang aja jalan menuju ke karamat, jangan tanya jalan ke Lingga Yoni karena dijamin gak akan ada yang tahu.
Menurut referensi dari Disparbud Provinsi Jawa Barat, Lingga dan Yoni merupakan benda peninggalan budaya masa klasik Hindu-Buddha, sebagai lambang kesuburan dari perwujudan Siva dan Durga dihubungkan dengan pemujaan terhadap Dewi Ibu. Dewa-dewa dalam agama Hindu, khususnya dewa-dewa tertinggi yang digambarkan memiliki kekuatan untuk melakukan “tugas” yang seharusnya. Kekuatan ini disebut šakti dan seringkali diwujudkan sebagai dewi pasangan dewa-dewa tersebut.
Dalam aliran Waisnava, Šakti Wisnu diwujudkan sebagai Laksmi. Dalam aliran Saiwa, Sakti Siwa disebut Dewi. Menurut beberapa Kitab Purana, Šakti Siwa atau Dewi memiliki dua aspek santa atau saumnya (tenang) dan aspek kroda atau raudra (dahsyat). Kultus Dewi Ibu menjadi bagian penting pada kebudayaan agraris sekitar 5000-4000 tahun SM. Hal ini muncul dari ketakjuban dan ketidakpahaman akan proses-proses alam, seperti kelahiran.
Pada masa ini masyarakat menganggap Dewi Ibu sebagai personifikasi tanah yang melahirkan tanaman yang diperlukan manusia. Kemudian dibuatlah patung-patung wanita dalam sikap jongkok dalam ukuran kecil yang terbuat dari tanah liat dan batu kapur. Pada masa ini Dewi Ibu dipuja bersamaan pasangan laki-lakinya, karena pada prinsipnya dalam proses kelahiran hal tersebut tidak dapat diabaikan. Lambang Dewi Ibu dan pasangannya berupa alat kelamin wanita dan alat kelamin laki-laki.
Masih menurut referensi dari Disparbud Provinsi Jawa Barat, situs ini menempati areal seluas 52.5 m². Pesawahan yang ada di sekitarnya menurut cerita merupakan danau yang di namakan Situ Wangkelang oleh penduduk setempat. Tempat ini diperkirakan sebagai tempat pemujaan pada masa klasik Hindu-Buddha.
Artefak yang ada di situs ini terdiri atas : Lingga dan Yoni serta Fitur. Posisi Lingga dan Yoni sekarang bergeser sekitar 145 cm dari tempat aslinya. Pergeseran ini terjadi akibat terjatuhnya Lingga-Yoni ke Sungai Ciloseh, kemudian penduduk setempat meletakkannya kembali ke atas bukit tersebut, tetapi tidak tepat di tempat aslinya.
Secara keseluruhan berukuran tinggi 82 cm, sedangkan secara terpisah adalah :
Lingga terbuat dari bahan batu andesit dengan tinggi 45 cm. Bagian atasnya berbentuk silinder dengan diameter 19 cm, bagian tengahnya berbentuk segi delapan, dan bagian bawahnya berbentuk segi empat dengan ukuran 18 cm x 18 cm ;
Yoni terbuat dari bahan batu cadas dengan tinggi 60 cm. Bagian atas berbentuk tidak beraturan dengan kedalaman dudukan Lingga setinggi 21 cm. Pada bagian tengah terdapat hiasan geometri dan berpelipit. Bagian bawahnya merupakan bagian kaki yang berpelipit dan relatif utuh berbentuk segi empat, dengan ukuran besar pada bagian bawah sekitar 55 cm x 50 cm. Fitur diduga merupakan bekas bangunan percandian, tetapi sudah tidak utuh lagi, yang tampak hanya susunan beberapa batu cadas pada sisi timur dan selatan dengan teras setinggi 50 cm.
Jadi sebenarnya Situs Purbakala Lingga Yoni yang berada di Tasikmalaya ini merupakan benda peninggalan sejarah yang sangat bernilai. Tetapi sayang sekali nampaknya kurang mendapat perhatian dan yang pasti masyarakat sekitar sebagian besar tidak mengetahui keberadaannya. Terbukti ketika menanyakan lokasi semua warga menjawab tidak tahu, tetapi apabila menanyakan lokasi karamat baru tahu.
Sumber: viva.co.id