
Singaraja - Warga di Desa Selat Kecamatan Sukasada, Buleleng, matur piuning memohon petunjuk niskala, pascapenemuan jamur raksasa, di areal tengah hutan lindung. Semula warga tidak menyangka jamur itu bertahan lama, sejak ditemukan Juni 2014 lalu. Seiring perjalanan waktu, jamur tumbuh membesar di sekitar bebatuan. Bahkan tumbuh mencapai diameter satu meter. Kejadian itu lalu membuat warga penasaran. Mereka lalu datang melihat jamur raksasa yang diyakini memiliki kekuatan niskala itu.
Sejumlah informasi di lapangan menyebutkan, umumnya jamur yang biasa, tidak dapat berumur panjang, apalagi sampai satu tahun lebih. Hebatnya lagi, posisi tumbuhnya jamur di areal hutan lindung dan bebatuan berukuran besar. Warga kemudian menggelar upacara matur piuning, memohon petunjuk, melibatkan paranormal atau balian dari Desa Suwug Sawan, Buleleng. Berbagai sesaji lalu dihaturkan dan akhirnya warga diminta membangun beberapa palihggih suci. Atas temuan jamur raksasa itu, masyarakat mulai menaruh kepercayaan utamanya dalam menjaga kelestarian hutan. "Awalnya, ditemukan 10 Juni 2014 lalu, jamur itu tumbuh cuma lima kelopak jamur. Kemudian berkembang mencapai puluhan kelopak jamur, malah semakin membesar. Setelah meminta petunjuk niskala tadi (kemarin-red), kami diminta membangun palinggih suci. Kami akan berkoordinasi dengan Di-shutbun Buleleng soal keberadaan hutan lindung, dan Pemkab Buleleng menyangkut infrastruktur jalan," ujar lian Desa Adat Selat, Putu Yasa, Minggu (31/5).
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Desa Selat Kecamatan Sukasada, Buleleng, Ketut Serina, menyatakan kejadian temuan jamur raksasa ini tergolong gaib dan unik. "Penemuan jamur ini erat kaitannya dengan perkembangan Agama Hindu di Desa Selat, untuk bisa bersatu berdasarkan sastra-sastra. Kami tentu akan melakukan rembuk kembali, apalagi harus dibuatkan palinggih. Dan itu tidak bisa kami lakukan dengan gegabah," ucap Serina.
Jamur raksasa ini telah berisikan sarana kain putih kuning dan kelengkapan sesajen persembahyangan, karena masyarakat mulai mengganggap jamur itu keramat. Perangkat Desa Selat akan menindaklajuti dengan prosedur yang dianggap pantas secara niskala, dengan menggelar rapat terlebih dadulu.
"Perlu ada akses penataan jalan menuju lokasi jamur raksasa. Jalan yang ada sekarang masih sangat terjal, berliku terdapat air terjun di sekitar temuan jamur akan ditutup. Masalahnya jamur itu mulai disakralkan," tambah Sekretaris Desa Selat Wayan Semadi.
Sumber: Koran Bali Post, Senin Umanis, 1 Juni 2015