
Lantas bagaimana sejatinya performa Gebug Ende yang difungsikan sebagai ritual untuk memohon turunnya hujan demi kesuburan lahan pertanian di Desa Seraya? Menurut Komang Nisma, Desa Seraya di masa lalu sering kali mengalami kekeringan. Hujan merupakan sesuatu yang langka. Tentunya, kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi masyarakat Desa Seraya terutama yang berprofesi sebagai petani. Akhirnya, mereka sepakat untuk melaksanakan tradisi yang sangat disakralkan bernama Gebug Ende sebagai sarana ritual untuk memohon turunnya hujan.
"Kami masyarakat Seraya memang menyakini tradisi ini dapat membantu untuk mengatasi musim kemarau, yang berkepanjangan. Tradisi ini sudah berjalan turun-temurun dan kami di Seraya sangat percaya pementasan tradisi ini merupakan salah satu upaya dari para leluhur kami untuk memohon hujan dan kesuburan lahan pertanian di desa kami," tegas Nisma.
Menurut Komang Nisma, Gebug Ende dikenal juga dengan nama Gebug Seraya yang menunjukkan tradisi ini tumbuh dan berkembang di Desa Seraya, Karangasem. Gebug Ende berasal dari kata gebug yang berarti memukul dan ende yang berarti alat atau tameng (perisai) yang digunakan untuk menangkis. Sebagai alat pemukul digunakan rotan dengan panjang sekitar 1,5 meter. Sementara alat untuk menangkis terbuat dari kulit sapi yang dikeringkan dan dianyam berbentuk lingkaran. Biasanya, tradisi Gebug Ende ini dimainkan oleh dua orang laki-laki, baik laki-laki dewasa dan remaja maupun anak-anak.
"Keduanya membawa tongkat rotan sebagai alat pemukul dan tameng sebagai alat untuk menangkis serangan lawan. Dalam permainan ini, penguasaan teknik memukul dan menangkis serangan lawan merupakan hal yang utama. Dalam permainan Gebug Ende juga dikenal adanya dua orang pemain yang berperan sebagai saya (wasit). Mereka inilah yang mengawasi agar permainan ini berjalan dengan fair play. Seperti pertarungan tinju, pemain yang dipasangkan juga memiliki postur tubuh yang seimbang. Anak-anak dipasangkan dengan anak-anak, begitu juga remaja dan dewasa," katanya memaparkan.
Komang Nisma menambahkan, dalam permainan Gebug Ende juga ada uger-uger atau peraturan yang wajib ditaati oleh pemain. Sebelum permainan dimulai, saya (wasit) akan menjelaskan uger-uger tersebut kepada pemain, di antaranya pemain hanya boleh memukul di atas pinggang sampai kepala dan tidak boleh memukul bagian tubuh di bawah pinggang sampai kaki. Karena permainan ini mengandalkan kegesitan, adakalanya salah satu atau kedua pemain menderita luka-luka terkena sabetan rotan. Namun, kami menyakini darah yang tercurah itu sebagai pertanda hujan yang dinanti-nantikan akan segera turun," katanya menuturkan.
Nisma menjelaskan, permainan Gebug Ende ini juga merefleksikan semangat heroisme leluhur Desa Seraya yang konon dipercaya sebagai prajurit perang Raja Karangasem. Zaman itu, orang asli Seraya juga disebut-sebut kebal dan kuat. Mereka ditugaskan untuk menggempur atau menyerang Kerajaan Selaparang di Lombok Barat dengan bersenjatakan alat gebug dan tameng. Kerajaan Selaparang pun berhasil ditaklukan. "Lewat pelestarian tradisi Gebug Ende ini, kami juga ingin menggali, mengembangkan dan mewariskan semangat heroisme leluhur Seraya itu kepada generasi penerus kami," tegasnya.
Sumber: Koran Bali Post, Sabtu Umanis 15 Agustus 2015