
Bangli - Warga Desa Pakraman Satra Kecamatan Kintamani, Bangli memiliki tradisi yang mampu menarik perhatian masyarakat umum. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Menek Truna bagi pria dan Menek Bajang bagi perempuan. Dalam prosesi itu, ratusan babi guling dihaturkan. Hal menarik lainnya yang terlihat, yakni dalam prosesi tersebut, peserta lanang (laki-laki) membawa bumbung berisi tuak dan perempuan membawa nasi kepel yang ditaruh dalam sebuah tamas. Tuak dan riasi kepel tersebut menjadi oleh-oleh bagi anggota pakraman terdahulu.
Bendesa Adat Satra Wayan Keradi memaparkan prosesi munggah truna kali ini diikuti oleh 200, peserta yang, terdiri dari 130 pria dan 70 perempuan. Prosesi yang telah berlangsung turun temurun ini diakui sangat disakralkan warga. Sehingga saat digelar, jumlah warga yang mengikuti membeludak. Umur peserta yang ikut juga tidak dibatasi. Masalah umur diserahkan langsung kepada masyarakat untuk melihat langsung kondisi anaknya. Sepanjang anak tersebut mampu mengikuti semua proses seperti puasa dan makemit (begadang) selama tiga hari, maka remaja itu boleh diikutkan.
"Ini sudah menjadi prosesi yang dilakukan secara turun-temurun. Peserta yang ikut kali ini mencapai 200 orang. Jumlah ini lebih banyak dari sebelumnya," ujarnya pekan lalu. Dijelaskan pula, prosesi ini diawali dari Pura Bale Agung setempat. Peserta pria dalam prosesi awal membawa bumbung berisi tuak dan perempuan membawa jiasi kepelan (nasi kepal) yang ditaruh dalam tamas.
Setelah prosesi di Pura Bale Agung usai, upacara berikutnya dilakukan di Pura Pehsan. Prosesi di pura ini hanya dilakukan pasucian sehingga lebih cepat. Selanjutnya barulah prosesi dilakukan di Pura Sang Telaga. Di pura ini bakti suluhan dihaturkan dengan babi guling. "Prosesi upacara ada beberapa tahapan sebelum babi guling dihaturkan," jelas Keradi.
Terkait waktu pelaksanaan, sebut Keradi tidak ada batasan khusus. Pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi desa. Jika ada upacara ngaben maupun pembangunan pura, upacara ini tidak terlaksana. Mengenai tujuan upacara, dikatakan untuk menyucikan diri masyarakat.
Lebih lanjut Keradi menjelaskan jika anak yang mengikuti upacara ini sudah selesai mawinten, kemudian lanjut ke jenjang pernikahan, apabila laki-laki, mereka akan ikut dalam Organisasi Pamaksan. Sedangkan jika perempuan, mereka akan masuk Organisasi Madean.
Sumber: Koran Bali Post, Senin Wage, 3 Agustus 2015