Tradisi Ngerebeg di Tegallalang

Tegallalang - Masyarakat Desa Adat Tegallalang, Rabu (19/8) kemarin, kembali menggelar ritual Ngerebeg. Tradisi unik ini merupakan rangkaianpiodalan di Pura Luhur Duur Bingin, yang puncaknya dilaksanakan Kamis (20/8) ini. Ritual yang digelar tiap rahina Wraspati Umanis Pahang tersebut diyakini mampu menetralisasi energi negatif serta menghindari bencana yang terjadi di desa setempat.

Prosesi Ngerebeg diikuti ratusan peserta anak dan remaja laki-laki dari tujuh banjar di Desa Adat Tegallalang. Mereka menghias diri agar tampak menyeramkan layaknya bhuta kala. Pada tengah hari, peserta berkumpul di utamaning mandala Pura Duur Beringin. Sejumlah persiapan dilakukan sebelum Ngerebeg dimulai seperti persembahyangan bersama.

Ritual diawali dengan nunas paica berupa nasi dan lawar oleh peserta dengan cara magibung atau makan bersama. Selanjutnya, mereka berkeliling desa dengan membawa serta hiasan dari janur. Peserta berkeliling sepanjang sekitar 10 km. Saat berkeliling, peserta diberikan sesajen di tiap pura dan kuburan yang dilewati. Ritual Ngerebeg ini merupakan simbol kehadiran bhuta kala pada diri manusia untuk selanjutnya dinetralisasi guna menghilangkan sifat buruk atau merugikan.

Bendesa Pakraman Tegallalang, Pande Wayan Karsa, mengungkapkan, ritual ini telah dilaksanakan secara turun-temurun. Pada intinya, ritual ini bermakna syukuran mengingat pada rangkaian ritual terutama pagi harinya, anak-anak menghaturkan berbagai sesajen berupa bunga ataupun buah. Ritual ini juga sebagai simbol keyakinan krama desa setempat mengenai sasuhunan yang berstana di Pura Duur Bingin yakni Ida Batara Ratu Gede. Diyakini, sasuhunan setempat memiliki banyak panjak berupa wong samar.

Sumber: Koran Bali Post, Kamis Umanis, 20 Agustus 2015