
Kabupaten Mamuju di Provinsi Sulawesi Barat selama ini menjadi salah satu daerah tujuan transmigran asal Bali. Ini terlihat dari banyaknya masyarakat Bali yang hidup di kabupaten berpenduduk kurang lebih 200 ribu jiwa ini. Selama menjalani kehidupan di Mamuju, tingkat perekonomian para transmigran asal Bali sudah banyak yang menunjukkan peningkatan. Hanya saja peningkatan ekonomi para transmigran yang mayoritas beragama Hindu itu, belum didukung dengan ketersediaan tenaga pengajar agama Hindu di sekolah. Guru agama Hindu di kabupaten tersebut masih sangat minim. Hal ini mengakibatkan tidak maksimalnya pendidikan agama di sekolah-sekolah.
Seperti yang diungkapkan Ketua Paruman Walaka PHDI Kabupaten Mamuju Wayan Supatra saat menerima kedatangan rombongan Pemkab Bangli di Desa Toabo, Kecamatan Papalang, Kabupaten Mamuju belum lama ini. Dia menuturkan, populasi umat Hindu di daerah transmigran ini cukup banyak dan tersebar di beberapa desa, seperti di Desa Toabo dan Desa Tommo, Kecamatan Papalang. Hanya saja, banyaknya umat Hindu di Mamuju tidak sebanding dengan jumlah guru agama Hindu yang tersedia di sekolah-sekolah.
Dimana sampai saat ini jumlah guru agama Hindu di kabupaten tersebut masih sangat minim, yakni hanya enam orang. Minimnya guru agama Hindu ini secara tidak langsung mengakibatkan tidak maksimalnya pendidikan agama di sekolah-sekolah. "Keberadaan guru agama masih menjadi persoalan tersendiri bagi kami. Di sini, pengangkatan guru agama Hindu sangat sulit. Sampai saat ini guru agama Hindu yang terangkat baru enam," terangnya.
Untuk mengatasi kekurangan tersebut, umat Hindu menyiasatinya dengan memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya di luar pendidikan formal, salah satunya melalui pasraman. "Selain juga pembinaan-pembinaan dari PHDI," ujarnya.
Terkait kondisi itu, pihaknya selama ini sudah cukup sering memohon kepada pemerintah setempat agar bisa melakukan pengangkatan guru agama Hindu di Mamuju. Akan tetapi permohonan tersebut belum membuahkan hasil yang maksimal. Dalam kesempatan itu Supatra sangat berharap besar, agar kesulitan guru agama Hindu di Mamuju ini bisa mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Bali. "Jika memungkinkan kami harapkan pemerintah provinsi Bali bisa mengirimkan guru agama Hindunya ke Mamuju, sehingga pendidikan agama di sekolah-sekolah bisa berjalan maksimal," harapnya.
Supatra menuturkan selama ini umat Hindu di Mamuju hidup berdampingan dalam keberagaman. Ini dikarenakan yang tinggal di Mamuju bukan saja transmigran asal Bali namun dari berbagai suku seperti Jawa, Lombok, Bugis dan lainnya. Demikian juga agama yang dianut oleh masyarakat setempat sangat beragam.
Meski dalam keberagaman namun mereka dapat tetap hidup penuh toleransi. "Setiap ada persoalan yang menyangkut antarumat, pasti kami selesaikan dalam forum kerukunan umat," terangnya. Tak hanya itu, meski bertahun-tahun hidup di luar Bali, namun umat Hindu tetap berusaha mempertahankan tradisi yang mereka bawa dari Bali. Ini dibuktikan dari masih dilestarikannya tradisi-tradisi agama seperti Nyepi, melasti, dan lainnya, sebagaimana yang dilaksanakan umat Hindu di Bali. Selain itu umat Hindu di Mamuju juga masih melestarikan kesenian khas Bali seperti gamelan dan beberapa jenis tarian yang mereka pelajari dari kaset video.
Sumber: Koran Bali Post, Senin Wage, 25 Mei 2015