Umat Hindu Dukung Pesparawi Nasional

AMBON - Umat Hindu yang ada di Provinsi Maluku mendukung sepenuhnya pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XI yang akan berlangsung di Ambon.

“Seluruh umat Hindu yang ada di Provinsi Maluku siap mendukung pelaksanaan Pesparawi Nasional XI,” ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Maluku I Wayan Sutapa saat pe­rayaan Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1937 yang berlangsung di Baileo Slamet Riyadi, Makorem 151 Binaiya, Ambon, Sabtu (28/3).

Wayan mengatakan, umat Hindu akan selalu mendoakan agar se­luruh persiapan hingga pelaksa­naan Pesparawi Nasional dapat berjalan sesuai yang direnca­nakan. “Kita juga mendoakan agar Provinsi Maluku sukses sebagai tuan rumah maupun peserta Pesparawi Nasional,” katanya.

Menurutnya, kebersamaan antar umat beragama dalam menyuk­seskan perhelatan Pesparawi Nasional dapat mendorong adanya kehidupan masyarakat yang harmonis di daerah ini.

Ia juga menjelaskan, melalui perayaan Nyepi, umat Hindu ber­harap dapat mewujudkan harmo­nisasi dan kebersamaan baik sesama umat hindu maupun antar umat beragama.

“Dengan adanya harmonisasi dalam kebersamaan serta keda­maian maka akan mendorong ke­hidupan yang harmonis di daerah ini sehingga dapat mencapai kesejahteraan bersama,” jelasnya.

Perayaan Dharma Santi Nyepi Tahun Baru Saka 1937 berlang­sung dibawah sorotan tema “De­ngan Penyucian Dunia dan Alam Semesta Kita Tingkatkan Keber­samaan Untuk Membangun Ma­luku Yang Sejahtera dan Religius”.

Senada dengan Wayan Sutapa, Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua juga mengharapkan dukungan umat Hindu guna menyukseskan pelaksanaan Pesparawi Nasional.

“Beberapa waktu kedepan kita akan melaksanakan sejumlah kegiatan nasional diantaranya Pesparawi Nasional dan juga Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). Rakernas itu akan dihadiri 98 walikota di Indonesia. Untuk itu marilah kita bersama-sama menyukseskan kegiatan nasional tersebut,” ungkapnya.

Di tempat yang sama Sekretaris Jenderal PHDI Pusat, I Ketut Parwata saat menyampaikan dharma wacana mengatakan, selama ini masyarakat secara umum lebih mengenal Nyepi dibandingkan Tahun Baru Saka.

“Selama ini gema Tahun Baru Saka kalah dari istilah Nyepi.Sebenarnya Nyepi mengandung arti sepi atau sunyi, dan dirayakan setiap 1 tahun saka. Dan tahun ini merupakan tahun saka 1937,” katanya.

Dijelaskan, umat saat nyepi akan melaksanakan empat atau Catur Brata, meliputi amati geni (tiada berapi-api atau tidak meng­gunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak men­dengarkan hiburan).

Sumber: Siwalayanews.com Senin 30 Maret 2015