Unhi dan University Germany Gelar Seminar Internasional

Denpasar - Universitas Hindu Indonesia (Unhi) berkolaborasi dengan University of Heidelberg Germany mengadakan seminar internasional dengan topik "Waterscapes in Bali and Beyond Shifting Paradigms of Pollution and Purity". Seminar selama tiga hari dari 22-24 September dibuka oleh Rektor Unhi, Selasa (22/9) kemarin. Pembicara seminar internasional tersebut Dr. IBP Suamba, Prof. Dr. Jorg Gengnagel, Prof. I Wayan Windia, Dr. Ida Bagus Dharmika, M.A., Dr. Ni Luh Kartini, staf ahli Gubernur I Nyoman Gede Suma Artha, I.B. Susena Wanasara, I Made Gunarta, Dr. Frances Niebuhr, Dr. I Gede Ketut Adiputra, Lea Stephan, Dr. Wayan Budi Utama, Dr. I Made Sudarma, I Wayan Alit Artha Wiguna, Dr. Rachel Lorenzen, Dr. Katharina Schneider, Dr. Lisa Palmer, Dr. I Made Yudabakti, Dr. Abhishek Joshi.

Ketua Panitia Seminar Internasional Prof. Ir. Wayan Redy Aryantha, M.Sc, Ph.D. mengatakan, pembicara pada seminar ini berjumlah 20 orang dari 5 negara yaitu Jerman, Australia, India, Amerika, Indonesia dan 6 dari Jerman. "Mereka semuanya concern terhadap permasalahan air dalam hubungannya dengan kehidupan manusia secara umum dan hubungannya dengan pertanian, ritual, agama, budaya semuanya dibahas oleh para narasumber," paparnya. Sedangkan pembicara Unhi dan Unud mempresentasikan air dari sudut manusianya. Rektor Unhi pembicara dari Unhi membahas tentang pentingnya air, manfaat air dari segi ritual agama dan kebudayaan.

Sedangkan Unud banyak berbicara tentang subak (sistem pengairan tradisional di Bali) yang masih eksis khususnya di Jatiluwih yang merupakan warisan budaya dan sampai saat ini telah diakui dunia UNESCO. Yang menjadi masalah adalah air di daerah perkotaan, baik dari segi fisik kehidupan seperti untuk air minum, pertanian, sawah sudah didesak oleh bangunan untuk kebutuhan perumahan. "Boleh jadi subak problem yang besar harus kita hadapi," ujarnya. Begitu juga pencemaran air sangat besar, seperti Sungai Badung telah tercemar sampah organik dan anorganik.

Rektor Unhi Dr. Ida Bagus Dharmika, M.A. mengatakan, seminar internasional tentang air adalah seminar besar yang dilaksanakan di Unhi dalam rangka Dies Natalis ke-52, melibatkan 5 negara. "Pemikiran mereka tentang air di dunia termasuk air di Bali secara ideal banyak mempunyai konsep, nilai, norma dan teks sastra juga banyak memuat tentang air. Tapi kenyataan sekarang dalam industrialisasi, kapitalisasi, modifikasi banyak yang sudah tercemar di dunia," katanya.

Diakui saat ini dunia menghadapi persoalan krisis air, termasuk kekeringan di Bali. Karena itu, masalah air berusaha dipikirkan para intelektual seluruh dunia ke depan karena manusia dan makhluk lainnya tak bisa hidup tanpa air. "Itulah dasar kita melaksanakan seminar internasional ini," ujarnya.

Dharmika sangat mengharapkan pemikiran dan gagasan baru berkaitan dengan pengelolaan air yang baik, sumber-sumber air, candi-candi patirtan di dunia bisa dilestarikan, dan bisa memanfaatkan air dengan baik dan menjaga kebersihan air sepanjang masa. Tampaksiring memiliki potensi besar dengan air karena sebelumnya Unhi pernah KKN di sana. Di sana ada beberapa candi patirtan yang merupakan konsep ideal bagi masyarakat Bali. Ada Tirta Empul, Gunung Kawi, Yeh Pulu, Goa Gajah adalah candi patirtan di Kecamatan Tampaksiring.

"Kita mencoba dengan mahasiswa dan masyarakat mewujudkan kecintaan terhadap sumber air melalui seni yang disampaikan pada pembukaan UBS besok (hari ini - red)," paparnya.

Sumber: Koran Bali Post, 23 September 2015