Unhi Melaksanakan "Mahasisya Upanayana" Diawali dengn "Mawinten", Diakhiri Tirtayatra

Denpasar - Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar melaksanakan Mahasisya Upanayana pada 783 mahasiswa baru, Senin (24/8) kemarin. Selama empat hari mahasiswa baru mengikuti mahasisya upanayana diisi dengan tirtayatra di Pura Pusering Jagat, Tampaksiring, yoga, dan ceramah-ceramah.

Unhi memiliki 6 fakultas dan 12 program studi yang terdiri dari Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan, Fakultas Teknik, Fakultas Kesehatan, Fakultas Pendidikan Agama dan Seni, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Fakultas Ekonomi. Mahasiswa baru yang berjumlah 783 orang terdiri atas Program Studi Ekonomi Akuntansi sebanyak 240 orang, Ekonomi Manajemen 408 orang, Filsafat Agama Hindu 12 orang, Hukum Agama Hindu 2 orang, Kesehatan Ayurweda 14 orang, Biologi 20 orang, Pendidikan Agama Hindu 30 orang, Pendidikan Seni Karawitan Keagamaan Hindu 14 orang, Pendidikan Seni Rupa dan Ornamen Keagamaan Hindu 4 orang, Pendidikan Seni Tari Keagamaan Hmdu 8 orang, Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota 3 orang, Teknik Sipil 28 orang. Dari tahun ke tahun Unhi memang rutin melaksanakan upacara pawintenan untuk mahasiswa baru.

Rektor Unhi Dr. Ida Bagus Dharmika, M.A. mengatakan, memang Unit Kegiatan Kampus (UKK) sebelumnya lebih banyak kegiatan fisik, tetapi untuk tahun ini mahasiswa lebih banyak diberikan ceramah-ceramah tentang kehidupan kampus, proses pembelajaran di kampus, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. "Juga ada ceramah-ceramah dari luar seperti BNN dan instansi lainnya," ujarnya.

Unhi juga memiliki ciri khas yaitu sebelum mahasiswa baru masuk ke area kampus wajib mengikuti ritual yang disebut pawintenan. "Kalau konteks Unhi memang ada ciri khasnya, kemarin kita sudah melakukan pawintenan. Jadi sebelum mahasiswa itu masuk ke arena kampus ini, memang ada ritual yang kita lakukan yaitu pawintenan. Semua mahasiswa baru yang ada di Unhi ini memang wajib untuk mengikuti pawintenan ini," paparnya.

Dharmika menjelaskan, proses dari SMA/SMK ke perguruan tinggi itu kritis, gawat karena ada perubahan-perubahan yang dialami seperti perubahan proses pembelajaran, perubahan pergaulan. "Itu yang harus mereka siapkan dari segi mental maupun dari segi fisik. Makanya kita buat seperti ini, di awal kita mawinten di akhir kita ada tirtayatra. Itulah jati diri kampus kita," jelasnya.

Dalam menghadapi dunia global, pihaknya telah mendidik mahasiswa dengan basis kurikulum KKNI, juga ada pendampingan ijazah karena ijazah yang dikeluarkan Unhi telah terakreditasi. Program studinya juga telah terakreditasi, namun untuk konteks di dunia luar, ijazah Unhi juga harus diakui. "Nah, maka dari itu memang harus ada pendamping-pendamping ijazah, karena dengan itu kelihatan kompetensinya. Kemudian di kampus ini dia harus mendapatkan bahasa Inggris. Memang dapat di kelas masing-masing, tetapi secara lembaga kita juga mendorong mendapatkan sertifikat bahasa Inggris, sertifikat komputer, dan ciri khas kita lagi satu adalah memiliki sertifikat yoga," jelasnya.

Menurut Ketua Panitia Dr. Ir. E. Dewi Yuliana, M.Si. yang saat itu juga didampingi Wakil Rektor I Unhi Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si. mengatakan, tujuan dari pawintenan itu sendiri adalah untuk menyucikan diri lahir batin sehingga mahasiswa akan mampu menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan selama proses perkuliahan. Dengan demikian mahasiswa mampu menyelesaikan pendidikannya dengan baik secara formal maupun informal, dalam artian juga akan melengkapi clirinya dengan keterampilan hard skill maupun soft skill.

Sumber: Koran Bali Post, Selasa Umanis, 25 Agustus 2015