Upacara "Mamukur" di Panjer Diikuti 130 "Puspa Lingga"

(Ilustrasi)

Denpasar - Desa Pakraman Panjer untuk pertama kalinya menyelenggarakan upacara atiwa-tiwa (ngaben) bersama, yang dilanjutkan dengan matatah dan mamukur. Kegiatan ini telah berlangsung sejak Minggu (2/8) lalu yang diawali dengan nyukat genah. Sedangkan puncak upacara ngabennya berlangsung Minggu (23/8) lalu. Setelah upacara ngaben, dilakukan rangakain upacara lainnya seperti matatah dan mamukur. Upacara ini diikuti 130 puspa lingga.

Demikian diungkapkan Ketua Panitia Mamukur Wayan Rastina saat ditemui di sela-sela upacara mamukur, Selasa (22/9) kemarin. Dikatakannya, sebelum upacara mamukur ini, pihaknya sudah menyelenggarakan upacara matatah massal, Minggu (20/9) lalu. Sedikitnya 102 orang krama Desa Adat Panjer mengikuti upacara matatah massal itu. Upacara tersebut dipuput Ida Pedanda Putra Telaga dari Geria Telaga Sanur.

Semua upacara ini, baik atiwa-tiwa maupun ngaben dan mamukur yang dilaksankan secara gratis. Upacara ini merupakan program dari prajuru desa. Pertama kali pihaknya hanya melaksanakan upacara ngaben massal secara gratis. Setelah mendapat masukan dari warga untuk melaksanakan upacara matatah dan ma-mukur, maka upacara matatah dan mamukur massal dilaksanakan secara gratis pula. Pada saat matatah, melibatkan 15 orang sangging.

Rastina mengaku dana yang dihabiskan da-lam upacara ini sekitar Rp 700juta. Semua dana itu merupakan bantuan dari Pemerintah Kota Denpasar, kas desa dan LPD Desa Pakraman Panjer. Juga dari dana punia warga Desa Pakraman Panjer, dan donatur lainnya. Upacara ini sangat membantu warga masyarakat. Untuk itu, ia berharap bisa dilaksanakan berkelanjutan.

Puncak karya mamukur dipuput ida Pedanda Putra Telaga. Upacara diawali dengan ngening, mlaspas puspa, mapurwa daksina, dilanjutkan dengan utpeti stitiningpuspa, dan muspa. "Besok (hari ini - red) akan dilanjutkan dengan ngayut di Pantai Matahari Terbit, Sanur," jelasnya.

Sumber: Koran Bali Post, Rabu Kliwon 23 September 2015