
Bangli - Setelah menjalani wanaprasta yakni hidup di hutan selama 13 bulan, Mangku Pura Campuhan Windhu Segara Padanggalak, Kesiman, Jro Mangku Alit bersama istri, Sabtu (8/8) kemarin, menjalani upacara padma pratistha.
Upacara padma pratistha di-puput Ida Rsi Bujangga Adi Guru dari Griya Batursari, Batanbuah, disaksikan lima sulinggih yakni Ida Rsi dari Griya Tebawu, Ida Rsi Griya Tumbak Bayuh, Sempidi, Ida Rsi Giri Mandala Bangli, dan Ida Rsi dari Griya Keramas. Upacara juga dihadiri utusan puri dan raja di Bali serta seribu krama Hindu dari Denpasar dan Kubutambahan.
Warga Kubutambahan, Tajun, Tamblang, Pakisan, Antaban, Tejakula, Bondalem dan Siakin (Bangli) sengaja mengantarkan Jro Mangku Campuhan yang akrab disebut guru ini menjalani padma pratistha setelah hidup menyepi di hutan. Wanaprasta Jro Mangku Campuhan berakhir di Banjar Padanglumbung Desa Tambakan Kecamatan Kubutambahan.
Setelah diupacarai, Ida Rsi Bujangga Adi Guru memberi nama Jro Mangku Campuhan dengan sebutan Mahaguru Aiteri Naranaya dan Mangku Istri, Shri Saci Sanjiwani. Keduanya sudah meninggalkan rumah sejak 2009 lalu.
Selama wanaprasta Mangku Campuhan fokus untuk mencari sumber air dan melakukan penyucian diri. Mangku yang dikenal berginjal satu ini mengaku tak tahu dari mana mendapatkan kekuatan sehingga tubuhnya'tahan cuaca dan mampu melewati perjalanan yang terjal dan sulit dengan makanan vegetarian. "Hanya keyakinan membuat saya kuat," ujarnya.
Yang paling berkesan, kata dia, saat hidup sendiri di Bondalem sebelum ditemukan oleh Mangku Gede Suliangkin.
Gede Suyasa sebagai putra aranyaka Jro Mangku Campuhan mengungkapkan sesuai Weda usai seseorang wanaprasta diupacaraipodma pratistha. Wanaprasta ini biasanya dilakoni para rsi di zaman dwaparayoga. Usai melakukan inisiasi ditingkatkan derajatnya ke sawitra-janma atau biksuka. Makanya perjalanan Jro Mangku Campuhan dikenal berangkat dari tiga jalan yakni yadnya yoga lewat korban suci, kedermawanan dan pertapaan.
Gede Suyasa sebagai murid nayakan Jro Mangku Campuhan mulai Minggu (9/8) ini juga menjalani wanaprasta di seluruh Bali dan Jatim selama lima tahun. Perjalanannya dimulai dari Tampaksiring hingga selat duda, dan berakhir di Sumber Waras, Jatim.
Sumber: Koran Bali Post, Minggu Kliwon, 9 Agustus 2015