
(foto: swarahindudharma.com)
Sleman - Pada Minggu 9 Agustus 2015 lalu para pinandita dan sarati banten D.I.Yogyakarta berkumpul di Pura Dharmagita, Sumber Watu, Kec. Prambanan, Kab. Sleman, untuk melaksanakan kegiatan pembinaan wasi dan sarati yang dilaksanakan oleh Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta, kegiatan ini diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari 50 pinandita dan 50 sarati banten. Dimana kegiatan tersebut untuk menyamakan persepsi tentang tata cara dalam beritual dan sarana-sarana upacaranya, agar nanti tidak terjadi kesimpang siuran dalam menyelesaikan ritual upacara keagamaan.
Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan tersebut, para wasi harus tahu dan paham tentang sesaji – sesaji yang persiapkan atau dibuat oleh para sarati banten ketika membuat sarana upakara yang akan digunakan dalam pelaksanaan ritual keagamaan. sehingga wasi memuput upacara tidak mengalami kesulitan dalam melakukan tugasnya dalam memuput upacara baik yang nista, madya ataupun yang utama. Untuk mengatasi hal itu maka pada kesempatan itu, Bimas Hindu memprakarsai untuk setiap kegiatan untuk selalu membuat alat-alat keagamaan yang nantinya akan dibahas dalam pertemuan tersebut, supaya ada bekal untuk para wasi yang masih muda dan para sarasti yang masih kurang paham dalam membuat dan makna dalam upakara tersebut.
Selanjutnya pada hari itu juga Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta , Bapak Idan Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si dengan di damping bapak Untung Waluyo, B.A selaku PHDI Sleman menyerahkan bantuan kepada para wasi dan sarati banten berupa pakaian pinandhita dan pakaian sarati, yang nantinya digunakan ketika para wasi dan sarati pada saat melakukan tugasnya di keumatan.
Kemudian dalam acara itu juga diadakan dharmathula antara wasi dengan sarati. Pada kesempatan itu pula ibu Astra Tanaya selaku Ketua Sarati Banten D.I.Yogyakarta menjelaskan tentang materi yang berhubungan dengan upacara keagamaan, yaitu tentang prayascita, pabiyokalan, dan durmanggala. Ketiga sarana tersebut berfungsi untuk memohon keselamatan dan juga pembersihan secara niskala. Sedangkan dari Wasi yang memaparkan tentang tata cara memuput sarana-sarana yang telah dibuat oleh para sarati banten.
Pada pemaparan dari Wasi Akhir Mulyono menegas agar mengikuti pedoman pinandhita yang sudah disepakati bersama. Sehingga ketiga sarana tersebut dipahami dan dimengerti oleh para wasi dan sarati banten sehingga nantinya ketika dalam pelaksanaan setiap ritual keagamaan para wasi mampu dan mengerti dalam menghatarkannya menurutnya bu astra. Kemudian para sarati banten juga mampu membuat ketiga sarana tersebut dan memahaminya ketika ngiring pemangkunya ketika melakukan ritual. Ini yang menjadi penyatuan antara wasi dengan wasi agar tidak terjadi perpedaan persepsi. Sehingga ketika event keagamaan wasi dan sarati selalu siap dalam menjalankan swadharmanya sebagai pelayan umat dalam melaksanakan persembahyangan baik di puranya sendiri ataupun dipura-pura yang lain. Ini yang menjadi harapan dari Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta. Agar nantinya para wasi dan sarati dapat meningkatkan dirinya dalam memberikan pelayanan terhadap umat, sehingga umat Hindu D.I.Yogyakarta dapat meningkat sradha dan bhaktinya.
Sumber: Majalah Raditya Edisi 220 dan swarahindudharma.com